hfscsite.org – Bayangkan suasana Minggu pagi di kompleks perumahan Anda. Bapak-bapak sibuk dengan cangkul, ibu-ibu menyiapkan gorengan dan kopi, sementara selokan yang menghitam dan mampet mulai dikeruk beramai-ramai. Semangat gotong royong atau kerja bakti memang menjadi ciri khas kita, terutama saat musim hujan tiba untuk mencegah banjir. Namun, di balik tawa renyah dan semangat kebersamaan itu, ada ancaman mikroskopis yang sering kali luput dari perhatian.

Kita sering fokus pada “biar tidak banjir” atau “biar tidak ada nyamuk demam berdarah”, tapi melupakan musuh yang tak kalah mematikan di dalam lumpur got tersebut. Tanpa perlindungan yang memadai, niat mulia membersihkan lingkungan bisa berujung di ruang IGD rumah sakit.

Pernahkah Anda mendengar tentang “penyakit kencing tikus”? Jika belum, atau jika Anda menganggapnya sepele, artikel ini adalah peringatan keras. Kita harus mulai menerapkan pola pikir Safety First: bahaya leptospirosis saat bersih-bersih selokan adalah risiko nyata yang bisa merenggut nyawa jika terlambat ditangani.


Musuh Tak Kasat Mata di Dalam Lumpur

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri bernama Leptospira. Bakteri ini tidak terbang di udara, melainkan berenang-renang riang di dalam air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan. Hewan apa? Paling sering adalah tikus, meskipun anjing, sapi, dan babi juga bisa menjadi pembawa (karier).

Saat kita membersihkan selokan, kita pada dasarnya sedang mengaduk “rumah” tikus. Urin tikus yang mengandung bakteri ini bercampur dengan air got dan lumpur. Bakteri Leptospira bisa bertahan hidup berbulan-bulan di air tawar yang lembap. Jadi, air keruh yang menyiprat ke wajah atau kaki Anda itu bukan sekadar air kotor, melainkan koktail bakteri yang siap menginvasi tubuh.

Jebakan “Luka Sedikit Tidak Apa-apa”

Banyak orang berpikir bahwa bakteri ini hanya masuk jika tertelan. Salah besar. Pintu masuk favorit bakteri ini adalah melalui kulit yang terluka atau selaput lendir (mata, hidung, mulut).

Bayangkan Anda sedang menyerok sampah di got. Kaki Anda lecet sedikit karena terkena pinggiran beton atau pecahan beling yang tersembunyi di lumpur. Anda mungkin berpikir, “Ah, cuma goresan kecil, nanti juga kering.” Padahal, bagi bakteri Leptospira, goresan kecil itu ibarat gerbang tol yang terbuka lebar. Bahkan, jika kulit Anda utuh tapi terendam air kotor dalam waktu lama hingga keriput dan lunak (maceration), bakteri ini tetap bisa menyusup masuk melalui pori-pori. Inilah mengapa prinsip Safety First: bahaya leptospirosis saat bersih-bersih selokan menekankan perlindungan kulit mutlak.

Gejala yang Sering Menipu: Flu atau Maut?

Masalah terbesar dari leptospirosis adalah kemampuannya menyamar. Masa inkubasinya berkisar antara 2 hingga 30 hari setelah paparan. Ketika gejalanya muncul, sering kali mirip dengan flu biasa, demam berdarah, atau tifus.

Gejala awalnya meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala parah, mual, dan mata merah. Namun, ada satu ciri khas yang membedakannya (meski tidak selalu muncul): nyeri otot yang luar biasa, terutama di bagian betis. Jika Anda merasa betis Anda sakit sekali saat dipijat atau dipakai berjalan setelah beberapa hari sebelumnya ikut kerja bakti, alarm bahaya harus segera berbunyi di kepala Anda. Jika tidak segera diobati dengan antibiotik yang tepat, penyakit ini bisa merusak ginjal (gagal ginjal akut), hati (menyebabkan kulit kuning/ikterus), hingga pendarahan paru-paru yang fatal.

Perang Melawan Populasi Tikus Kota

Kenapa selokan kota begitu berbahaya? Jawabannya ada pada tata kota dan sanitasi kita. Sisa makanan yang dibuang sembarangan ke saluran air menjadi restoran bintang lima bagi koloni tikus.

Semakin banyak tikus di lingkungan Anda, semakin tinggi konsentrasi bakteri di selokan. Saat hujan turun dan selokan meluap, bakteri ini menyebar ke jalanan, halaman rumah, bahkan masuk ke dalam rumah. Membersihkan selokan tanpa mengendalikan populasi tikus dan manajemen sampah sebenarnya hanya solusi jangka pendek yang berisiko tinggi. Kita tidak bisa meniadakan tikus sepenuhnya, tapi kita bisa memutus rantai penularannya ke tubuh kita.

Perlengkapan Perang: Bukan Sekadar Gaya

Sekarang, mari bicara solusi. Saat turun ke selokan, lupakan sandal jepit. Sandal jepit adalah “dos besar” dalam kamus keselamatan kerja bakti.

Penerapan Safety First: bahaya leptospirosis saat bersih-bersih selokan dimulai dari kaki. Gunakan sepatu bot karet (boots) setinggi lutut yang kedap air. Ini adalah investasi murah yang menyelamatkan nyawa. Selain itu, gunakan sarung tangan karet tebal. Jangan memungut sampah di got dengan tangan kosong! Jika ada luka terbuka di bagian tubuh yang tidak tertutup, balut dengan plester tahan air sebelum memulai aktivitas. Kacamata pelindung (goggles) juga disarankan jika Anda melakukan pekerjaan yang berpotensi menimbulkan cipratan air ke wajah.

Ritual Pasca-Kerja Bakti

Setelah selesai berjibaku dengan lumpur, jangan langsung menyambar gorengan atau menyalakan rokok. Tangan Anda saat itu adalah zona bahaya biologis.

Segera mandi dengan sabun antiseptik sampai bersih. Periksa seluruh tubuh apakah ada luka baru yang mungkin terjadi selama bekerja. Jika ada, bersihkan dengan antiseptik (seperti povidone iodine) dan tutup lukanya. Pakaian yang dipakai saat membersihkan selokan harus segera direndam deterjen terpisah dari pakaian harian lainnya. Bakteri Leptospira mati oleh deterjen, sabun, disinfektan, dan pemanasan/pengeringan. Jadi, kebersihan diri adalah benteng pertahanan terakhir.

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan menunggu sampai kulit berubah kuning atau kencing berdarah. Jika dalam waktu 1-2 minggu setelah membersihkan selokan atau terkena banjir Anda mengalami demam tinggi mendadak disertai nyeri otot, segera ke dokter.

Kunci kesembuhan leptospirosis adalah deteksi dini. Sampaikan riwayat kegiatan Anda kepada dokter dengan jujur: “Dok, seminggu lalu saya membersihkan got.” Informasi ini sangat krusial agar dokter tidak salah mendiagnosisnya sebagai demam biasa. Pengobatan dini dengan antibiotik sangat efektif, tapi keterlambatan bisa berakibat fatal.


Kesimpulan

Kerja bakti membersihkan selokan adalah tindakan mulia untuk menjaga lingkungan, tetapi jangan sampai niat baik itu mengorbankan kesehatan Anda sendiri. Kita tidak perlu paranoid, tetapi kita harus waspada dan rasional.

Ingatlah selalu mantra Safety First: bahaya leptospirosis saat bersih-bersih selokan. Pakai sepatu bot, lindungi luka, dan jaga kebersihan diri. Mari ciptakan lingkungan yang bebas banjir dan tubuh yang bebas bakteri. Karena pada akhirnya, selokan yang bersih tidak akan berarti apa-apa jika Anda terbaring sakit karenanya. Tetap sehat, tetap waspada!